BERSYUKUR ( Oleh : Dra.Hj.Suharti )

February 11, 2008 at 5:04 am Leave a comment

Pada suatu saat ada pemandangan yang terlihat Lucu, tapi kadang ada perasaan haru, kalau saya nikmati, asyik juga, kadang timbul perasaan kasihan, jika dalam kondisi panas dan lapar , terasa jengkel juga dalam pikiran saya dan kadang menakutkan. Sering sekali saya melihat dan memperhatikan ulah setiap orang didalam mikrolet, di dalam bus atau ulah orang-orang yang nongkrong dipinggir-pinggir jalan . Demikian itu seolah-olah merupakan keasyikan tersendiri buat saya sambil untuk mencari hiburan dalam kegiatan rutin saya berangkat mengajar kesekolah. Jarak rumah saya dengan sekolah lebih kurang ada 12 km. Hiburan diperjalanan itu setiap harinya berubah tidak pernah ada yag sama peristiwanya. Terkadang saya ketemu dengan pencopet, kadang ketemu dengan pengamen, kadang juga ketemu dengan pengemis, dan masih banyak lagi profesi yang menarik lainnya. Ternyata kalau kita mau memperhatikan kehidupan, betul-betul dunia ini adalah panggung sandiwara.
Pada suatu saat saya pernah melihat seseorang yang berlaku aneh disebelah kiri saya, didalam bus waktu itu penumpangnya sedikit, tapi tepat disebelah saya berdesak-desakkan. Dengan perasaan tidak berdosa, kepala saya dibenturkan kearah depan, Saya melihat kiri kanan tidak ada yang menunjukkan tangan jailnya. Alhamdulillah tidak membentur sandaran tempat duduk didepan saya, walaupun benturan itu agak keras, terasa sekali tekanan tenaga seorang laki-laki. Orang yang ada disebelah bertanya kepada saya. “Mengapa ?” “Aku tidak mengerti “ itulah jawaban dari saya. Juga dalam fikiran saya “aneh sekali , saya tidak bersalah apa-apa kok saya disakiti ?.” Apa sebenarnya motif dari orang tersebut ?. Setelah peristiwa itu berlalu begitu saja ternyata saya tidak boleh melihat dia, karena dia mau mencopet. Saya akhirnya mengalihkan pandangan ketempat lain. Disebelah tempat duduk saya ada seorang ibu yang sudah tidak asing lagi buat saya karena dia sering minta sesuatu pada saya. Kalau dia saya beri uang seribu dirumah, dia minta tambah sarung, kadang minta tambah rukuh, jarit , baju , beras, gula dan lain sebagainya. Dia sering cerita pada saya tentang musibah yang dialaminya. Sepuluh kali ketemu sepuluh musibah telah dialaminya. dua puluh kali ketemu dua puluh musibah telah pernah menimpanya. Pada saat saya tidak kelihatan olehnya dirumah dia diberi uang seribu oleh suami saya, kemudian dibuang uang itu didepannya, “untuk apa uang seribu ?” begitulah gerutunya. Pada saat yang ada dirumah anak perempuan saya, dia minta uang sepuluh ribu, dikasih dia sepuluh ribu, karena dia bilang biasanya ibumu memberi saya sepuluh ribu, begitu rayuan mautnya.. Pernah dia bilang tangannya tidak bisa diluruskan, sakit rematik katanya, setelah berhasil apa yang dia mau eh nyatanya jarak 50 m dari pandangan saya , dia bisa berdendang, senyum-senyum sambil melambai-lambaikan tangannya . Oh ternyata yang selama ini diceritakan kepada saya tidak benar kalau begitu. Musibah demi musibah itu ternyata bohong belaka. Dia tidak mau bersyukur dengan rejeki yang telah sampai ditangannya. Bahkan dia sering memberi pendidikan kepada orang lain untuk menjad penderma yang baik, lewat gerutunya.
Salah seorang sahabat suami saya yang memiliki kebiasaan unik begitu adalah Mas Agus Sunyoto. Pada tahun 1980-an, dia tertarik ingin mengetahui penyebab kenapa seseorang kesrakat hidupnya menjadi pengemis. Untuk mencari jawaban misteri ini, sastrawan penulis Babad Jenggala Pangjalu tersebut, berhari-hari mengamati kehidupan beberapa orang pengemis di Surabaya, begitu cerita suami saya.
Ada pengemis yang pada pagi hari didrop di beberapa perempatan, dengan menggunakan mobil pick up. Baru pada sore harinya dijemput kendaraan yang sama. Ada pengemis yang diantar keluarganya dengan sepeda motor. Dan, ada pula pengemis yang naik kendaraan umum.
Berhari-hari mengamati kehidupan seorang pengemis, belum mendapatkan jawaban yang dicari. Kemudian dicari cara yang lebih ekstrim. Dia duduk, di dekat seorang pengemis menjalankan profesinya. Sepanjang hari, mulai pagi sampai sore menunggui memperhatikan apa saja yang dikerjakan seorang pengemis. Mendengarkan gerutunya, dan melihat garis ekspresi wajahnya.
Demikian itu dilakukan beberapa hari, dengan beberapa pengemis yang berbeda. Sampai akhirnya, Mas Agus Sunyoto mengetahui jawaban terhadap misteri kenapa seseorang sampai ditakdirkan Allah, menjadi seorang pengemis. “Mereka tidak pernah bersyukur“. Itulah kesimpulannya.
Meski dalam mengemis sehari mendapatkan uang sampai Rp 50 ribu, satu jumlah yang lumayan banyak untuk ukuran saat itu, para pengemis itu selalu mengomel menyalahkan para penderma. “Wong saiki pelit kabeh. Ngekei wong ngemis muk satus repes, paling akeh rong atus, “ kata Mas Agus Sunyoto menirukan omelan seorang pengemis.Sepintas tidak ada korelasi antara mengomel, sikap tidak bersyukur, dengan takdir kehidupan seseorang. Namun, itulah kenyataannya.
Orang yang berhasil hidupnya, kebanyakan mereka adalah orang-orang yang menjalani hidup dengan penuh optimisme. Orang yang berbahagia hidupnya adalah mereka yang selalu bersyukur kepada Allah.
Bahkan, menurut Abah Kiai Abdullah, pengasuh Pondok Pesantren Darun Naja, Desa Udanawu, Blitar, “orang yang doanya mustajabah” negitu kata suami saya “adalah orang yang tidak pernah berdoa (meminta pada Allah)”, karena setiap hari seluruh waktunya sudah habis untuk mengucapkan syukur alhamdulillah, selalu mensyukuri nikmat dan rahmat Allah yang sangat besar jumlahnya, sampai-sampai tidak sempat meminta karena merasa sudah diberi. Oksigen misalnya, kalau dirumah sakit harganya mahal, tetapi dirumah gratis, air kalau ditoko bisa tigaribu perbotol, kalau dirumah juga gratis. Banyak-banyaklah bersyukur walau tertimpa musibah, bersabarlah kalau menerima cobaan.“Orang seperti ini, kalau berdoa dikabulkan Allah, “ kata ulama yang akrab disapa Kiai Dullah tersebut.
Sebaliknya, jika seseorang ingin hidupnya berhasil, beberapa motifator mengatakan, “agar hidup penuh semangat, setiap bangun tidur yang harus kita lakukan adalah bersyukur kepada Tuhan Allah SWT.

Entry filed under: artikel. Tags: .

BERKARYA ( Oleh :Dra.Hj.Suharti ) Teori Kepemimpinan (Oleh : Dra.Hj.Suharti)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


February 2008
M T W T F S S
     
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Archives

Flickr Photos

Two

Shopping

Devina

More Photos

%d bloggers like this: